Marmut Merah Jambu #Review (Spoiler Alert!)

Suatu hari Dika (Raditya Dika) datang ke rumah Ina (Anjani Dina), cinta pertamanya sewaktu SMA, membawa seribu origami burung bangau di tangan kanannya, dan undangan pernikahan Ina di tangan kirinya. Besok, Ina akan menikah. Kedatangan Dika diterima oleh Bapak Ina (Tio Pakusadewo) yang curiga kedatangan Dika untuk kasus cinta lama yang belum selesai dan berpikir bahwa Dika ingin menggagalkan pernikahan anaknya. Dika menceritakan maksud sebenarnya, yang jauh dari tuduhan Bapak Ina.
Seiring dengan Dika bercerita, kita melihat masa lalu Dika (Christoffer Nelwan), dia berteman akrab dengan Bertus (Julian Liberty). Pada masa ini, Dika SMA jatuh cinta diam-diam kepada Ina. Baik Dika dan Bertus sama-sama sadar, untuk mendapatkan cewek di sekolah, mereka harus populer. Untuk itu Dika dan Bertus membuat grup detektif bersama Cindy (Sonya Pandarmawan). Mereka menyelesaikan kasus-kasus absurd yang terjadi di sekolahnya. Semakin banyak kasus yang mereka selesaikan oleh grup detektif ngawur ini, semakin dekat Dika dengan tujuan akhirnya: jadian sama Ina.
Di masa sekarang, seiring dengan Dika bercerita, seiring itu pula dia sadar: ada yang belum selesai dari masa lalunya. Seiring itu pula dia bertanya: benarkah cinta pertama tidak akan kemana-mana? -21cineplex.com

Film Marmut Merah Jambu (MMJ) merupakan film kelima yang udah dibikin sama Raditya Dika (Dika). Di film ini seperti pada film-film sebelumnya, Dika sendiri yang menyutradarai sekaligus menjadi pemain. Walaupun porsinya tidak sebanyak di film-film sebelumnya.

Dalam film-film ini banyak cameo yang diambil dari film-film sebelumnya atau pun dari Malam Minggu Miko seperti mas Anca, Ge Pamungkas, dll. 

Casting yang dilakukan oleh Dika emang gak sembarangan. Ini terbukti dengan performa pemainnya yang oke punya. Walaupun terbilang lebih banyak yang fresh dalam dunia perfilman main di film MMJ, tetapi tidak menyurutkan mereka untuk tidak tampil maksimal. 

Gue memberikan apresiasi besar kepada Bertus (Julian Liberty) yang aktingnya mengalir gitu aja. Beda banget sama Dika remaja Christoffer Nelwan yang aktingnya masih rada kaku. Sayangnya, keduanya kurang cocok dijadiin sebagai figure anak SMA. Faktor tampang sih yang ngebuat mereka keliatan muda banget dibanding pemeran-pemeran lain. Gue kira Christoffer Nelwan bakal meranin Dika saat maish SMP pertama kali ngeliat.

Buat yang nyari-nyari cerita unyu di film ini mending cukup baca bukunya. Film MMJ tidak seunyu di bukunya. Gue berharap besar cerita 'Ina Mangukusumo' bakal jadi hits banget di film MMJ seperti di bukunya. Tapi ternyata tidak. Padahal ide dasar buku MMJ adalah nyeritain tentang kisah cinta Dika yang sudah-sudah. Tapi di film MMJ malah yang terjadi sebaliknya. (walaupun punya konsep tentang cinta pertama)
Pusat cerita lebih kepada persahabatan antara Dika, Bertus dan Cindy. Ada sih cerita cintanya, tapi bukan yang sebagai mendominasi. Jadi hal yang romantis-romantis kurang begitu terasa di film ini. Berkebalikan dari buku MMJ yang banyak kisah adegan romantis percintaan Dika. 

Gue mengakui kalo Dika bukan orang yang mau hasil karyanya begitu-begitu aja. Walaupun punya judul yang sama dengan di bukunya, cerita di MMJ merupakan hasil inovasi dari berbagai cerita dan kemudian menghasilkan cerita baru. Berlaku juga dengan adanya perubahan kata dalam line yang ada di buku dan dikembangkan untuk masuk ke dalam dialog. Begitu juga dengan jokes yang memiliki beberapa perubahan dan bahkan ada yang benar-benar fresh muncul di filmnya saja.

Sayangnya, tidak semuanya berjalan dengan baik. Terkadang ada beberapa jokes yang terdengar garing. Entah karena pengucapan jokes yang kurang lugas atau timingnya yang kurang pas. Mungkin jokes yang ada di Malam Minggu Miko atau di film seperti Cinta Brontosaurus (ini yg paling gue suka) lebih bisa bikin lo ketawa dibandingin film MMJ.
Walaupun begitu, gue tetep suka sama film MMJ karena pemeran si Ina yang emang manis dan Cindy yang juga cakep ^^ (mantan personil JKT48 loh) sert mempunyai alur cerita yang cukup unik. Menghibur karena ada beberapa cerita yang orisinil yang belum kita ketahui sebelumnya.

Gue masih bisa ketawa lepas saat nonton film ini. Masih ada sensasi yang bisa gue rasakan saat nonton MMJ. Sama ketika gue nonton karya-karya Dika yang lainnya.

Film ini bisa lo tonton sendirian (gue banget), atau juga bareng pacar. Paling pas kalo emang barengan pacar atau temen sejawat yang sama-sama jomblo atau sama-sama korban jatuh cinta diam-diam. Pasti bakal lebih mengahayati lagi nontonya huehue

Film ini gue kasih nilai 7.8, which is masih layak di tonton di bioskop, tapi kalo lo mencari apa yang sama kayak gue cari, mending lo baca buku MMJ aja lagi ya.  Dimana menurut gue masih lebih banyak dan oke mengenai hal-hal unyu dan romantis.

So, sit back and enjoy the show!



Share:

0 comments