Malam

Seharusnya hari ini adalah hari yang menyenangkan. Bertemu teman lama, bernostalgia, makan makanan mewah ala restoran bintang lima, minum wine terbaik yang pernah aku coba, ataupun sekedar melihat senyum diwajahnya hari itu.

Bukannya aku tak mau mengahadiri hari terbaik kedua sahabat ku itu, namun tubuh ini seperti menolak diajak bekerja sama. Letih ini seperti nyata. Lemas rasanya untuk dibawa kemana-mana. Padahal mantan atlit basket saat SMA, rajin fitness 2x seminggu, makan sehat tanpa tersentuh polusi asap rokok. Namun, hari ini aku cuman bisa terbaring.



Bilangku pada mereka aku sakit. Tidak enak badanlah, pusinglah, beribu alasan medis aku sebutkan. Tentu saja yang masuk akal. Bodoh sekali jika aku bilang aku terkena kanker begitu saja. Sungguh sepertinya aku rasa aku ingin terkena kanker saja. Alias mau mati saja. Tujuan hidupku jadi buyar. Sama seperti mata ini. Sedikit demi sedikit menjadi kabur memandang. Ah, sudahlah. Aku tak ingin bertemu dengannya lagi.

Percuma. Badan dan hati tak bisa sejalan. Sama saja dengan logika melawan perasaan. Apa yang aku harapkan dengan mendatangi hari spesialnya itu? Berlari di altar dan meninggalkan mempelainya lalu memelukku? Atau dia mengundangku ke kamar gantinya dan menyatakan bahwa ia ingin kabur denganku. Ah, drama sekali itu. Tapi tetap saja, secuil harapan seperti tadi datang dalam pikiranku. Pada akhirnya aku pun sekarang duduk mengenakan tuxedo hitam mengkilap, dengan kemaja putih didalamnya serta dasi kupu-kupu yang pernah dia beri waktu itu.

Aku ingat, bagaimana dasi ini bisa berada di leherku sekarang. Waktu itu bulan Januari menjelang Febuari. Ruangan besar itu penuh sesak dengan manusia. Aku dan para manusia itu punya satu tujuan, melihat sebuah pertunjukkan pianis muda berbakat. Diva. Pianis berbakat yang selalu memendam bakatnya. Seorang bintang yang selalu ingin meredupkan cahayanya. Agar ia bisa tenang dalam hidupnya. Jauh dari jangkauan sorotan mata. Tidak ingin dikenal maupun dikenang. Sederhana, ia hanya ingin hidup normal. Aku sama sekali tak mengerti jalan pikirannya.

Di saat semua orang ingin dikenal, berepot-repot ria membranding diri mereka, mencoba mencari perhatian sana-sini, dia malah ingin seperti layaknya orang normal. Berjalan dalam suatu kerumunan tanpa ada yang tahu siapa dia. Tak ada yang peduli apa masa lalunya dan akan kemana dia.
Disaat orang lain ingin bergelimang harta, ia hanya ini bisa tidur dengan nyaman. Sofa pun tak apa, asal bisa tidur 8 jam sehari tanpa dering telpon menghiasi. Makan sayur dan nasi bikinan sendiri, bukan porsi diet seorang model maupun pemilihan gizi secara ketat. Sederhana adalah mimpinya.

Dering telfon menyadarkan lamunanku. Diva ingin bertemu sebelum acara dimulai. Aku bergegas mencari kamar ganti untuk menemuinya. Aku lupa, bahwa ini acara formal. Sayang, hanya kemeja saja yang aku punya. Kemeja putih lusuh ini adalah yang terbaik aku punya. Namun tidak dimata para penjaga pintu itu. Bagi mereka aku seperti seorang aneh yang mencoba menerobos penjagaan mereka. Seorang dari masyarakat kelas rendah yang mencoba bertemu bintang. Tentu sudah menjadi kewajiban mereka membereskan orang seperti ini dalam desk job mereka.

Disaat adu debat mulai memanas, pintu ruang ganti terbuka, muncullah Diva dengan senyumnya itu. Senyum yang selalu aku ingat presisinya. Gerakan mengulum bibir setelah senyum, dan gerakan tangan menyingkirkan rambutnya ke samping telinga adalah ciri khasnya. Karena dia tak akan pernah tersenyum untuk hal lain, kecuali di depan orang yang baginya itu spesial. Dan gerakan itu adalah perbedaanya dengan senyumnya yg lain. Senyum khusus menurutku.

Share:

0 comments