Harga Sebuah Pertemuan

Malaaaaaammmm! Atau lebih tepattnya pagi karena gue bikin postingan ini jam 3 pagi wakakakakaka. Mari menyebarkan ceria di pagi buta untuk menyambut sang fajar nanti, yuhuuuuu~~


Apa kabar lo semua? Baik kan baik kan, apalagi setelah baca-baca di blog gue. Beehh bisa menjadi teman dalam kesepian, dan menjadi obat kegalauan. Yakan? Hahaha. Eh tapi bener loh, menurut riset gue, kebanyakan orang setelah baca blog gue jadi ceria, dengan melakukan kusioner terhadap diri gue sendiri dan gue menjawab IYA. Artinya 100% orang yang baca blog gue setelahnya akan kembali ceria *narsis abis.


Ngomong-ngomong kecerian, gue lagi ceria banget nih! Jadinya gue pengen bagi-bagi. Tuhkan kurang keren apa gue bermurah hati membagi keceriaan kepada umat manusia dia belahan manapun di bumi ini hahaha.

Jadi, gue hari kembali bertemu dengan kawan lama gue. Kawan seperjuangan dalam masalah patah hati,  friendzoned, galau, dilema, depresi dan duka-duka lainya. Kok bersatu karena penderitaan? Ya nyatanya menderita bersama mempunyai banyak kesamaan dan menjadi solid untuk mengatasi penderitaan. Gile gue keren banget ya.



 *kiri ke kanan: Rama (Pujangga Gagal Percintaan), Lintang (Anak dari Belitong), Gue (Seksi nan Kece), Balqis (Teribet 1994-    ), Sasya atau sascha atau shasha atau sasa atau syasya (Anak Asik dari Tasik), Hanief (Pria Metrosexual Setelah Puberitas)


Geng Derita ini, yaa gue gak tau harus namain apa, tapi yasudahlah ya, kata shakseper (gue lupa tulisanya) nama itu gak penting, jadi gue dengan nista namain Geng Derita. Walaupun kita gak pernah jalan bareng dengan tampilan kayak orang sekarat nenteng infus kemana rame-rame, tapi kita sering seru-seruan menggila bersama! Enggak, bukan menggila di tengah jalan sambil bugil gitu, tapi yg macem Snup Dog (gue lupa lagi) yang young, wild and free.

Setelah vakum menggila selama kurang lebih setahun karena sibuk ini itulah, ada yang sibuk belajar, pacaran, move on, sampe nyari pacar. Akhirnya hari ini semesta mengizinkan kami bertemu kembali dalam suatu pertemuan yang sangat amat menyenangkan.

Kita (red: Rama dan gue) berencana mau ngasih surprised ke anak Belitong. Sebenernya sih gak pure surprise gitu. Kenapa? Karena Lintang sendiri yang minta dikasih surprise serta request kado dari kita -__-. Agak gak ens juga sebenernya yang mau disurprisin malah minta disurprisin duluan sebelum kita berencana ngesurprisin dia. Jadilah kita membuat perencanaan yang sangat matang (red: nyampe sana kasih kado)

Kita berempat udah nyari waktu yang pas, tapi gak pernah pas. Pasti ada aja yang gak bisa. Kan agak krik juga gitu kalo lo mau ngesurprisin orang tapi lo sendirian dan teriak "SURPRISEEEDDDD!!!" sambil bawa kado dan cengengesan. Jadilah kita sepakat kalo kita semua harus kumpul. Tapi karena Balqis ada uas dan sepik mau belajar demi uas yang padahal kita tau pasti dia males belajar, serta Hanief yang ada kuliah yang kita semua tau dia bisa cabut kuliah sehari karena dia pasti juga sering TA jadilah hanya Rama dan gue yang kece sebadai-badainya jambul syahrini yang bisa ngasih surprise. Dikarenakan Rama sendiri kosong dan gue kamis udah harus cabs ke Solo lagi. Gue sama Rama pun berencana natal akan ngasih surprise sorenya. Cuman kayaknya tuhan masih sayang sama kita semua dan ingin kita berkumpul bersama bareng-bareng, jadilah hari selasa itu hujan deras mengguyur Jakarta dari siang sampe malem. Rencana pun batal total.Gue dan Rama pun pasrah.

Setelah menimbang, meninjau dan mengkaji ulang, Rama pun ngajak gue hari Rabu alias tadi hari buat ngasih surprised. Dan untungnya jadwalnya agak lebih fleksibel yaitu sore hari menuju siang dikarenakan. Kita sempet janjian jam 2 kumpul di rumah gue. Rumah gue emang basecamp manusia manusia derita ini sampe-sampe gue disurprisin tiap tahun di rumah. Agak gak nyambung sih, tapi ya gitu lo ngerti kan maksudnya. Kalo lo kece sebadai gue pasti ngerti deh. Dan si Hanief pun ngaret sampe setengah 4 karena dia ketiduran di parkiran. Gue kehabisan kata-kata buat yang ini.

Cuss ke Depok dengan bermodalkan sebuah kado yang belum dibungkus kado dan nemuin Balqis dengan harapan dialah pahlawan dalam hal bungkus membungkus kado. Karena tingkatan wawasan kita para lelaki akan hal ini sangatlah jongkok sampai terkubur. TErnyata harapan kita hanya harapan semu belaka. Balqis gagal menuntaskan tugas ini. Coba bayangin meenn! Ngebungkus kado sampe beli 2 kertas kado meeennn!!! Dan menghabiskan waktu sejam setengah. Ini ngebungkus kado apa ngebungkus perasaan sih.......... ehem.

Tapi, untungnya satu setengah jam itu sudah dipersingkat dengan kehadiran anak asik dari Tasik alias si sasya atau sascha atau sasa atau shasha atau itulah pokoknya. Walaupun bantuan dia bisa naro selotip ditempat semestinya dan melipat secara rapih, tapi udah sangat amat teramat membantu.




       *perjuangan membungkus kado dengan peluh serta doa dari para pengunjung kantin asrama UI






 "Cewek itutuh cantik banget kalo dia bisa ngebungkus kado" Rama dengan pede bilang kayak gitu. Karena selama ini dia gak pernah dapet cewek impian dan fantasinya jadilah standar dia cewek cantik yang bisa bungkus kado. Mungkin dia memilih bermain aman.

Setelah berjuang menundukan dan menenangkan kado, kita pun cuss ke kosan lintang. Sesampai disana, kita suah punya rencana matang yang siap dilaksanan (red: mikirin rencana ngesurprisin gimana).

"Eh kita surprisin gimana nih?" kata gue. Kita udah sampe depan gerbang kosan dan emang udah agak di dalem gitu. Emang bodohnya kita udah keterlaluan.

"Yaudah kita iket aja, terus gotong ke mobil, ceburin ke danau UI!!" Hanief mengigau sarap di sore hari. Kita sepakat bertatap mata dan mengacuhkanya. Inilah efek tidur di parkiran mobil. Meracau dengan igauan gila di sore senja.

"Duh, gembel bet ini kita, masa gak ngasih kado doang terus balik -__-" Gue karena paling waras dan kece mencoba membawa manusia manusia derita ini ke topik awal. Kecuali anak Tasik yang asik dia bukan manusia derita karena dia asik karena dari Tasik. Karena si anak asik lebih banyak diem kayak patung totem selamat datang. Mungkin dia menyesal telah ikut bergabung dalam grup imbisil ini.

"Yaudah, coba mundur dulu, terus kita pikirin.........." Rama belum selesai ngomong dan Balqis dengan senang hati riang gembira di padang rumput berteriak....

"EEHH LINTAAANGGGG!!" Sambil melambai ke arah atas dimana Lintang lagi ngintip dari jendela kamar kosnya.

Maafkan temen Nanda ya Allah, maafkan temen Nanda *garuk tanah.

Alhasil buyar semua, dan dengan sukses, entah sukses apa enggak, yang penting kado selamat menuju tangan yang berhak mendapatkan kado itu. Kita berenam (nambah sasya atau sasa atau shasha atau sascha yang lupa gue sebutin. Dia ikut kita setelah dari bungkus kado karena mungkin dia gak ada pilihan setelah rayuan maut para lelaki haus kasih sayang)


                              *kado pun sukses mendarat di Lintang dengan selama sentosa


Karena anak kos, jadilah kita para manusia derita ini minta traktir, dan alhamdulillah Lintang dengan baik hati pun menyetujui permintaan manusia-manusia gak tahu malu ini untuk makan. Atas nama persahabatan memang sudah harusnya Lintang begitu, atau mungkin ini atas nama karna kita emang yang gakmau rugi udah dateng jauh-jauh.

Semua bahagia, semua senang, karena emang kita temu kangen begete abis setelah sekian tahun gak ketemu dan main bareng. Belum lagi hadirnya anak asik dari Tasik sebagai anggota baru dalam grup imbisil ini. Layaknya organisasi lainya yang harus menatar anak baru, jadilah si anak asik dari Tasik kita tatar dengan gombalan serta modusan para lelaki fakir cinta. Ditambah lelucon superduper garing yang gue rasa dia jadi ilfil dan mungkin itu terakhir kalinya dia main bareng karena kita karena merasa dirinya kurang gila, kurang derita, atau kurang imbisil. Entahlah~~



                                    *Gue gak homo, ini semua direkayasa demi asik semata



*Cewek-ceweknya


*Lela jualan Lele di pecel Lele Lela


Eniwei, malam itu kita tutup dengan bercana ria, keliling UI (red:dari hukum menuju stasiun UI) serta berfoto narsis sampe sampe mas-mas yang jaga warung makan kita mintain tolong buat motoin kita. Dengan seenak jidat minta foto terus sama abang jaga warung makan dengan berbagai pose serta latar berbeda dan akhirnya kualat karena banyak yg ngeblur -____-

Yang jelas, gak ada yang lebih indah dan mengasyikan kalau udah kumpul bersama-sama sahabat kita. Ditraktir pula. Gak ada yang bisa menandingin sensasinya! Bersyukurlah kita yang mempunyai sahabat, Karena mereka adalah "sahabat".

Namanya sahabat itu gak lekang oleh waktu dan jarak. Jarak dan waktu bukan alasan perpisahan, selama kita bisa mengenangnya dan tidak melupakanya, maka perpisahan itu tidak nyata atau tidak ada sama sekali (Tere Liye, dengan tambahan gue dalam novel Daun yang Jatuh tak Pernah Membenci Angin). Sahabat itu selalu ada ketika butuh, tapi dengan mengesampingkan egoisme dan saling mengerti. Bukan berarti seenak jidat minta dicebokin kalo tangan keram. Sahabat itu seperti obat. Mahal dan selalu dicari, tapi manjur untuk menyembuhkan berbagai penyakit, terutama penyakit hati. Kalo gak manjur? Salahkan dokter yang memberi resep. Sahabat itu seperti api unggun maupun selimut yang selalu memberi kehangatan dan kenyamanan. Selama ada mereka kita selalu merasa aman dan tenang. Bukan berarti meluk sana membabi buta, terutama kalo kedinginan pas lagi bugil. Sahabat itu adalah rumah kedua, [acar kedua, keluarga kedua kita di dunia. Seberapa jauh kita pergi, sesulit apapun kita menghadapi persoalan, maupun sesulit apapun kondisi keuangan kita, maka sahabat menjadi tempat kita berteduh, bersanding, bercerita serta meminjam uang. Sahabat itu seperti nyari jarum dalam tumpukan jerami. Mereka sulit dicari, sekalinya dapet kita gak akan rela menukarnya dengan jarum yang lain karena masa-masa perjuangan sampai menjadi sahabat tidak bisa digantikan apapun.

Gue bersyukur bisa ketemu merekadi dunia ini.  Fyi Rama temen gue dari sd, Hanief dulu temen sebangku kelas 8, dan deket juga sama Rama karena mereka sekelas pas kelas 7, Lintang dan gue pernah punya cerita tersendiri, Balqis temen curhat Hanief, dan Sascha baru hari itu ketemu, tapi udah nyambung walaupun belum tentu dia merasakan hal yang sama
Dan gue gak akan pernah mau menukarkan mereka dengan apapun di dunia ini, karena mereka satu persatu udah punya tempat dalam hati gue.

Mungkin Lintang yang berulang tahun mendapatkan kado dari kita-kita, tapi gue yang ngasih kado juga dapet kado kok. Yaitu sebuah pertemuan. Pertemuan hari ini setelah sekian lama lebih worth it dibandingkan susahnya nyari atau ngebungkus kado maupun ngumpulin mereka semua. Lelah dan penantian serta rindu itu terbayar sudah. Sebuah harga yang pantas untuk sebuah pertemuan singkat di suatu malam.



                       *sahabat seperti kepompong dalam kupu-kupu... entahlah, gue meracau.

Share:

0 comments