Laskar Pelangi 2: Edensor #Review (Spoiler Alert!)
Aku ingin mendaki puncak tantangan, menerjang batu granit kesulitan, menggoda mara bahaya, dan memecahkan misteri dengan sains. Aku ingin menghirup berupa-rupa pengalaman lalu terjun bebas menyelami labirin lika-liku hidup yang ujungnya tak dapat disangka. Aku mendamba kehidupan dengan kemungkinan-kemungkinan yang bereaksi satu sama lain seperti benturan molekul uranium: meletup tak terduga-duga, menyerap, mengikat, mengganda, berkembang, terurai, dan berpencar ke arah yang mengejutkan. Aku ingin ke tempat-tempat yang jauh, menjumpai beragam bahasa dan orang-orang asing. Aku ingin berkelana, menemukan arahku dengan membaca bintang gemintang. Aku ingin mengarungi padang dan gurun-gurun, ingin melepuh terbakar matahari, limbung dihantam angin, dan menciut dicengkeram dingin. Aku ingin kehidupan yang menggetarkan, penuh dengan penaklukan. Aku ingin hidup! Ingin merasakan sari pati hidup -Edensor
Ikal dan Arai, dua pemuda berasal tanah indah nan menawan, Belitong, telah sampai di Eropa. Untuk melanjutkan mimpinya, ia secara perlahan namun pasti menapaki ranah Eropa. Dimulai dari Paris. Mimpi para pemuda untuk bersekolah di sana pun terwujud berkat kerja keras dan doa tiada henti. Namun, rintangan bagi keduanya seakan tiada lelah terus menyapa.
Kelalaian Ikal dan Arai mengurus administrasi berujung pada diusirnya mereka dari asrama. Dengan darah dari negeri tropis yang mengalir di dalam diri mereka, keduanya mencoba bertahan dalam dinginnya suasana malam saat itu. Kegigihan mereka berdua bertahan hidup dalam selimut dingin mencekam, membawa tapak kaki mereka ke gerbang depan unversitas impian. Sorbonne, Paris.
Demi melanjutkan mimpi, berdua dengan giat belajar untuk terus menggapai cita. Ikal yang mengambil master ekonomi berteman erat dengan tiga pelajar lainnya dari negara berkembang lainnya. Manooj, Gonjales dan Ninocchka. Mereka dikenal dikalangan teman-teman lainnya sebagai Panthetic Four. Walau berasal dari tanah kelahiran yang berbeda, Manooj, Gonjales dan Ikal menyukai gadis yang sama. Perempuan berkebangsaan Jerman dengan tatapan tajam namun meneduhkan, serta senyuman manis yang selalu mengembang membuat ketiga lelaki itu saling menyukai. Katya.
Dalam dilemma, Ikal tak tahu harus terus menerus menaruh rindu dan harapan pada Aling yang saat ini entah ada dimana, gadis sipit berkuning langsat dengan kuku jemari terindah yang pernah ia lihat atau Katya, gadis dengan sejuta pesonanya yang digilai banyak pria di kampusnya yang hanya berjarak sejengkal dari hadapannya.
Semakin hari ia sibuk mengurusi hal cinta, membuat Arai cemas dengan Ikal. Ikal mulai terlihat tidak serius belajar. Selalu mencari Aling keliling kota, serta selalu pergi bersama Katya setiap harinya. Bagi Arai, mengejar mimpi adalah tujuan utama di sini. Sedangkan permasalahan lain harus dipinggirkan sejenak. Kecemasan Arai terbukti dengan hancurnya nilai Ikal di pertengahan semester. Akibat dari ini, hubungan persahabatan keduanya mulai retak. Terdapat jarak antara mereka berdua. Kondisi ini diperburuk dengan surat dari Ayah yang mengatakan bahwa situasi masyarakat kota sedang memprihatinkan karena bangkrutnya perusahaan timah yang selalu menghidupi warga Belitong. Kegelisahan mereka semakin menyala.
Akankah Arai serta Ikal mampu melanjutkan mimpinya? Apakah Ikal akan bertemu dengan Aling dan mendapatkan kepastian akan harapan dan rindunya? Akankah Arai dan Ikal akan terus berjalan bersama untuk menggapai cita? Ataukah mereka akan berselisih jalan nantinya?
Ehem, gue baru aja nonton Edensor. Atau kalau di posternya sih ditulisnya Laskar Pelangi 2: Edensor. Gue sendiri juga bingung kenapa ditulis angka 2 disitu. Setau gue sih ini buku ketiga dari Laskar Pelangi.
Gue kasih tau dari awal, apa yang gue review di sini bukan berdasarkan novelnya, namun dari filmnya. Gue sendiri jg belum pernah baca Edensor. Ehem, bahkan gue belum pernah baca semua buku karya Andrea Hirata.
Kata Edensor disitu merujuk pada sebuah desa di Derbyshire, Inggris. Tapi, di film ini hampir semua adegan berada di Paris. Gue baru ngeh, kenapa berjudul Edensor, ternyata dari buku yang dikasih Aling ke Ikal yang sampai saat ini masih disimpen. Menurut cerita, hanya dengan membaca buku itu, Ikal bisa melampiaskan rindunya dan memorianya.
Kalau lo nonton Sang Pemimpi sebelumnya, Ikal diperankan oleh Lukman Sardi dan Arai oleh Ariel. Di sini, Lukman Sardi masih main, cuman Arielnya diganti Abimana. Ayah mereka berdua juga masih diperankan oleh Mathias Muchus. Buat gue sendiri, antara Abimana sama Ariel emang lebih cocok Ariel secara muka untuk memperankan Arial. Mirip banget sih sama pemeran Arai pas SMA. Tapi akting Abimana juga gak mengecewakan kok.
Secara garis besar, menurut gue gak ada yang spesial. Karena emang dari segi cerita udah bagus banget dan pujian itu buat Andrea Hirata, bukan jalanc erita filmnya. Buat yang udah baca bukunya pasti juga ngerasa film ini bakal biasa aja. KECUALI lo ngefans banget sama para artisnya, penasaran visualisasi dari novelnya kayak apa, atau tergila-gila dengan Paris, lo bakalan nonton ini.
Gue sukses menitikkan air mata disalah satu adegan. Disini gue terharu banget. Adegan ini memotivasi gue buat baca novelnya. Jadi bukan karena filmnya. Eh tapi gue terharu gara-gara liat Lukman Sardi berkaca-kaca sih. Ah ya, emang deh Lukman Sardi itu kece banget. Di film Rectoverso doi juga sukses dengan aktingnya bikin gue terharu sih.
Di film ini ada empat bahasa yang bakal lo denger. Dominan bahasa Prancis dan Indonesia. Kadang ada juga dialog pake bahasa Inggris dan Jerman. Gue gak tau siapa yg nyusun tata bahasa buat dialognya, tapi kadang ada salah penempatan kata. Seperti berteriak pada suatu adegan yang cocok dengan kata Yell tapi dipake malah kata Scream. Ada juga beberapa yang kayak gitu. Kalo bahasa Prancisnya gue gak tau, gue gak bisa bahasa Prancis.
Tapi gue salut. Salut banget sama artis yang bisa lancar berbahasa yang buka bahasa tanah kelahirannya. Bahasa Prancis itu sulit, tapi Lukman maupun Abimana bisa nyeloteh pake bahasa itu lancar banget kayak udah tinggal berbulan-bulan di sana. Tapi karena mereka cowok, bahasa Prancis jadi gak kedengeran seksi. Kalo si Katya (gue gak tau ini siapa nama artisnya) yg ngomong, duhdek pengen gue rekam rasanya.
Walaupun sponsor film ini banyak, tapi penempatan iklan gak separah film 99 Cahaya di Langit Eropa (baca di sini) Di film ini lebih pas, gak berlebihan, dan yang penting, logis. Jadi enak diliat dan gak bisa diketawain karena ada iklan nyelip.

Gue gak suka dialog yang berlebih dan akting yang berlebihan untuk menyakinkan penonton bahwa ini sedih loh. Enggak. Gue emang gampang terharu, tapi kalo udah berlebihan yang ada gue merasa aneh dan langsung berpendapat ini film gak jelas dan gak layak tonton. Menurut gue, bikin sesuatu itu yang pas, dan sisanya biarkan emosi penonton yang menentukan. Dan film ini, gue nyatakan LAYAK TONTON.
Bentar, belum kelar.
Setelah filmnya kelar, gue agak meragukan apakah akan dilanjut lagi ceritanya Andrea Hirata. Soalnya ini mengenai keliling Eropa sih. Takutnya gak ada dana aja gitu. Gue juga ngerasa akhir dari cerita ini baru aja dimulai. Dan pertanyaan awal di film mengenai Ikal dan Aling pun belum terselesaikan. Teka-teki cinta mereka, atau apa belum terjawab sama sekali. Gue sih berharap ada lanjutannya. Soalnya biar gue bisa cepet-cepet baca novelnya. Abisnya kebacut (terlanjur) banget udah nonton filmnya sampe yg ketiga. Ibaratnya, kalo baca novelnya sama aja kayak spoiler. Tapi kalo emang gak ada baru deh gue baca.
Sejujurnya, film Edensor ini penurunan sangat dari film pertama. Penontonnya menurun. Gue inget, pertama kali nonton film Laskar Pelangi yg pertama, itu studio ramenya ya ampun. Gila-gilaan banget. Gue aja ampe beli tiket sehari sebelum biar bisa dapet tempat yg pewe. Lah ini, sepi amat. Cuman seperempat studio keisi. Padahal bagi gue, film Laskar Pelangi itu punya kekuatan motivasi yang besar banget. Gue rasa film memotivasi dari Indonesia yang paling ampuh itu ya nonton film-film Laskar Pelangi. Kalau Negeri 5 Menara? Duh, jangan deh. Nyesel. Yang ada lo termotivasi ngina-ngina sutradaranya yg bikin film. Di film Edensor pun, gue sendiri jg jadi termotivasi.
Gue suka nonton. Tapi gue lebih suka lagi kalo di film itu ada suatu nilai yang bisa gue bawa pulang. Saat menonton, di salah satu adegan Arai dan Ikal sedang berjuang, gue jadi mikir. Mimpi tertinggi gue apa ya? Gue ngerasa sampai saat ini gue belum punya mimpi tinggi yang mampu bikin gue merinding setiap mengingatnya. Setelah gue nonton ini, gue pun berniat (semoga terlaksana) untuk merancang mimpi gue. Setiap langkahnya untuk menggapai mimpi. Punya mimpi bukan sekedar jadi mimpi, tapi ada langkah dan target yg harus dicapai agar mimpi tersebut kesampaian. Dan terima kasih pada Edensor yang bisa membuat gue termotivasi.
Untuk film Edensor ini, gue kasih nilai 7.3 deh. Ya gak jelek tapi gak bagus-bagus amat. Lebih mending gak usah nonton kalo udah baca novelnya kecuali lo seperti apa yg gue bilang sebelumnya. Layak ditonton bareng keluarga, sahabat, sama pacar (gue sering bgt nulis kayak gini, tapi gue sendiri kalo nonton selalu sendirian....) asal jangan sama adek-adek lo yg masih TK atau SD. Gue jamin, lo cuman buang duit buat beli tiket mereka, gak bakal ngerti juga mereka lagian. Gue kadang suka heran, udah jelas kategori remaja, tapi ibu-ibu masih aja bawa anaknya yg masih bocah nonton film kategori remaja atau bahkan dewasa. Yahilah bu.
Film ini juga direkomendasikan buat kalian yang ingin ikut beasiswa atau kuliah keluar negeri. Karena bakal keliatan bgt lika-liku kehidupan mahasiswa perantauan keluar negeri kayak apa. Gue sendiri jadi pengen banget ngerasain kuliah di luar negeri. Yang paling seru itu, sambil kuliah sambil jalan-jalan. Belum lagi kenalan orang asing dari negara asing. Wah asik banget tuh kayaknya. Gue mupeng abis kalo si Ikal dan Arai main sama temen-temennya
Oh ya, setelah tiga film, akhirnya Andrea Hirata muncul juga loh. Buahahaha. Narsis juga ya, walaupun gak senarsis Raditya Dika yang bikin naskah sampe jadi pemeran utama sih huahahaha. Ya tapi, gue salut sama mereka para penulis novel yang bisa memvisualisasikan ceritanya ke dalam media film. Menurut gue itu adalah puncak keberhasilan seorang penulis. Terlebih, kalo filmnya itu sukses berat. Kalopun enggak, kalo kata Raditya Dika, yg penting buku gue udah pernah difilm-in terlepas komen negatif dan positif dari masyarakat. Karena, gak banyak penulis yg bisa seperti itu.
Oke, review film Edensor selesai sampai disini. Hmm sepertinya agak panjang, abis di sinopsis kayaknya wkwkwkw.
Yasudahlah, selamat menonton semuanya!
Tags:
Belajaar
Cerita ajaaa
0 comments