Jauh.
Lebih baik kita pergi jauh. Jauh. Jauh sekali. Sangat jauh.
Jauh.
Jauh dari sini. Jauh dari derita. Jauh dari perih. Jauh dari sakit.
Jauh dari sini. Jauh dari masalah. Jauh dari beban. Jauh dari kesialan.
Jauh dari sini. Jauh dari kenyataan. Jauh dari hujan. Jauh dari kematian.
Jauh. Lebih baik kita pergi jauh. Jauh dari segalanya.
Semakin jauh pergi. Semakin jauh pergi. Semakin mereka mengikuti.
Selama kita belum mati.
Sekian lama setelah post terakhir, saya baru ingin kembali menulis. Banyak ide, namun tak tahu aksaranya. Jadilah dipendam sendiri dan berkutat dengan pemikiran sendiri saja. Kembali saya membuka blog saya di tumblr. Cukup tua. Hampir setahun tidak posting sesuatu di sana. Namun saya senang sekali berada di sana. membaca dan melihat apa saja yang pernah saya tulis dan cantumkan. Saya melihat diri saya. Berbeda ketika saya melihat tulisan saya disini. Saya seperti melihat punggung saya. Yang menerka-nerka itu siapa. Meragukan keaslian dan kesejatian pribadi saya. Hanya mencoba menebak dan berasumsi. Tak tahu pasti siapa ia. Begitulah saya melihat di blog saya (di sini). Tak tahu mengapa.
Hei mari sini. Akan saya ceritakan sebuah kisah. Kisah para sekumpulan bedebah yang membaur diantara para manusia umumnya, namun seringkali membuat resah. Berhati-hatilah kalian, mungkin mereka terlihat polos. Mungkin mereka terlihat bersahabat, atau mungkin bisa jadi mereka dianggap pahlawan negeri. Tapi kita tak pernah tahu jalan pikirannya. Bagaimana juga latarnya ataupun keinginan sesungguhnya. Nafsu dunia yang menggebu-gebu, dan tak pernah pun rasa peduli menghampiri hatinya. Seakan memang iblislah dirinya.
Beberapa hari ini, media mungkin bingung harus memberikan informasi apa ke Indonesia. Di saat negeri ini akan berulang tahun, sahabat jauh di sana sedang tertimpa bencana. Di saat negeri ini kembali bertambah umur, berita tentang buruknya negeri ini tak pernah berkurang. Dari pembunuhan, korupsi, narkoba, pemerkosaan ah banyak sekali!