Seminggu itu
Gak terasa 2 minggu lagi menjelang gue masuk kuliah. Iya, kampus gue emang kampret. Yang lain tanggal 19 masih libur atau minimal ospek gak pake masuk kuliah, kampus gue ospek juga yang kuliah juga ikut masuk. Hadeeh hadeehh.
Malas sekali kalau harus mengingat kuliah. Bukan karena masalah mata kuliahnya atau apa. Tapi entah kenapa masalah di diri gue sendiri. Iya, gue merasa gue menarik diri gue sendiri dari dunia sana. Dunia dimana gue harus menuntut ilmu. Hampir semua aspek.
Gue menarik diri.
Gue inget banget, seminggu sebelum kepulangan gue, hape nokia gue, hape yang isisnya jarkoman itu sangat penuh sesak dengan sms jarkoman. Gue rasa seminggu ada 15 jarkoman. Paling yang gue gubris juga cuman 2 biji. Itupun karna gue emang lagi dibutuhin. Sisanya? Kepikiran untuk ngebuka jarkom aja enggak. Jadilah tanpa dibaca banyak yang langsung gue hapus. Seminggu itu adalah titik terendah gue. Gue menarik diri dari segala hal. Sebisa mungkin gue menjauh dari dunia. Entah itu dari kawan-kawan gue di sana, organisasi, temen kos, ibu kos, siapapun yang di sana gue mencoba menghindar. Gue sendiri bingung kalau ditanya kenapa. Malas bukan alasan utama. Dia hanya akibat dari penyebab sebenarnya yang menyebabkan gue jadi malas.
Mungkin orang lain akan melihat dari sisi berbeda. Namun buat gue, ini momen dimana gue butuh kesendirian. Butuh tempat untuk gue dan jiwa gue. Kadang, manusia itu butuh kesendirian. Karena dengan kesendirian ini kita akan berbicara dengan akal dan hati kita. Saling bertanya. Saling bercerita. Setidaknya itu menurut gue. Biasanya berhasil. Gue bebas. Jiwa gue lega. Gue siap untuk kembali menjadi manusia seutuhnya. Tapi kali ini enggak.
Seminggu gue gak merasa baikan. Setiap hari berada di kamar. Keluarpun hanya mencari akan. Segala agenda yang udah gue rencanakan dari jauh sebelumnya, dalam seminggu itu gue hapus semua. Gue hanya ingin di kamar. Jauh dari dunia. Tidak, lebih tepatnya hanya ini jadi penonton dunia saja. Melihat aktivitas teman-teman melalui update socmed dan sebagainya.
Rasanya ingin bercerita. Tapi gak tahu sama siapa. Kalaupun sudah tahu ke siapa, gue gak tahu harus dimulai dari mana. Gue sendiri aja gak tau gue itu kenapa. Jadi apa yang harus gue ceritakan?
Kadang, tidak sering juga karna gue begini semua bilang gue gak ngerti. Gak ngerti tentang keadaan mereka. Hey! Disini gue sendiripun gak ngerti keadaan gue gimana. Gimana gue harus bisa ngerti kalian? Lagi lagi nasihat "ngertiin ornag kalo mau dingertiin". Tolong, sekali-sekali tanyakan pada diri masing-masing. Jangan bertanya ke orang lain. Atau sekali-sekali boleh donk persepsinya gue rubah?
Diingat-ingat sekarang pun, gue masih ingat rasanya seminggu itu seperti apa. Neraka batin. Tersiksa. Linglung tak jelas. Marah tak jelas. Semua menjadi serba tak jelas! Ah, bahkan, sekarang menulis inipun gue sendiri gak tau karna apa. Cuman tadi sekelibat mengingat rasa semingu itu. Entahlah, kadang ada baiknya jauh dari dunia. Kadang, lebih baik acuh tak acuh saja pada orang lain. Toh rasa kesendirian sudah terbiasa ketika masih berada di rahim ibu.
Tapi jika ditanya ingin kembali mengulang masa seminggu itu, ah tidak. Gue gak mau. Menyiksa ketika terikat dengan kesendirian terlalu lama. Bagaimanapun bersama-sama lebih menyenangkan.
Malas sekali kalau harus mengingat kuliah. Bukan karena masalah mata kuliahnya atau apa. Tapi entah kenapa masalah di diri gue sendiri. Iya, gue merasa gue menarik diri gue sendiri dari dunia sana. Dunia dimana gue harus menuntut ilmu. Hampir semua aspek.
Gue menarik diri.
Gue inget banget, seminggu sebelum kepulangan gue, hape nokia gue, hape yang isisnya jarkoman itu sangat penuh sesak dengan sms jarkoman. Gue rasa seminggu ada 15 jarkoman. Paling yang gue gubris juga cuman 2 biji. Itupun karna gue emang lagi dibutuhin. Sisanya? Kepikiran untuk ngebuka jarkom aja enggak. Jadilah tanpa dibaca banyak yang langsung gue hapus. Seminggu itu adalah titik terendah gue. Gue menarik diri dari segala hal. Sebisa mungkin gue menjauh dari dunia. Entah itu dari kawan-kawan gue di sana, organisasi, temen kos, ibu kos, siapapun yang di sana gue mencoba menghindar. Gue sendiri bingung kalau ditanya kenapa. Malas bukan alasan utama. Dia hanya akibat dari penyebab sebenarnya yang menyebabkan gue jadi malas.
Mungkin orang lain akan melihat dari sisi berbeda. Namun buat gue, ini momen dimana gue butuh kesendirian. Butuh tempat untuk gue dan jiwa gue. Kadang, manusia itu butuh kesendirian. Karena dengan kesendirian ini kita akan berbicara dengan akal dan hati kita. Saling bertanya. Saling bercerita. Setidaknya itu menurut gue. Biasanya berhasil. Gue bebas. Jiwa gue lega. Gue siap untuk kembali menjadi manusia seutuhnya. Tapi kali ini enggak.
Seminggu gue gak merasa baikan. Setiap hari berada di kamar. Keluarpun hanya mencari akan. Segala agenda yang udah gue rencanakan dari jauh sebelumnya, dalam seminggu itu gue hapus semua. Gue hanya ingin di kamar. Jauh dari dunia. Tidak, lebih tepatnya hanya ini jadi penonton dunia saja. Melihat aktivitas teman-teman melalui update socmed dan sebagainya.
Rasanya ingin bercerita. Tapi gak tahu sama siapa. Kalaupun sudah tahu ke siapa, gue gak tahu harus dimulai dari mana. Gue sendiri aja gak tau gue itu kenapa. Jadi apa yang harus gue ceritakan?
Kadang, tidak sering juga karna gue begini semua bilang gue gak ngerti. Gak ngerti tentang keadaan mereka. Hey! Disini gue sendiripun gak ngerti keadaan gue gimana. Gimana gue harus bisa ngerti kalian? Lagi lagi nasihat "ngertiin ornag kalo mau dingertiin". Tolong, sekali-sekali tanyakan pada diri masing-masing. Jangan bertanya ke orang lain. Atau sekali-sekali boleh donk persepsinya gue rubah?
Diingat-ingat sekarang pun, gue masih ingat rasanya seminggu itu seperti apa. Neraka batin. Tersiksa. Linglung tak jelas. Marah tak jelas. Semua menjadi serba tak jelas! Ah, bahkan, sekarang menulis inipun gue sendiri gak tau karna apa. Cuman tadi sekelibat mengingat rasa semingu itu. Entahlah, kadang ada baiknya jauh dari dunia. Kadang, lebih baik acuh tak acuh saja pada orang lain. Toh rasa kesendirian sudah terbiasa ketika masih berada di rahim ibu.
Tapi jika ditanya ingin kembali mengulang masa seminggu itu, ah tidak. Gue gak mau. Menyiksa ketika terikat dengan kesendirian terlalu lama. Bagaimanapun bersama-sama lebih menyenangkan.
Tags:
Cerita ajaaa
0 comments