Gema Takbir Terputus Sebelum Akhir
Alhamdulillah, tinggal h-jam saja sampai kita menuju pintu akhir Ramadhan. Sampai ke garis finish, menyelesaikan apa yang sudah dimulai sebulan sebelumnya. Menandakan kemenangan sekaligus perpisahan akan bulan penuh rahmat ini. Semoga kita semua dipertemukan kelak di tahun mendatang. Aamiin.
Nah, udah jadi kebiasaan banget kan kalo malam sebelum lebaran itu ada yang namanya takbiran. Wuiihh, rame meriah di seluruh penjuru negeri. Semua mesjid, anak-anak, tua, muda, laki-laki, perempuan saling mengumandangkan takbir. Tanda hari kemenangan sudah hampir tiba. Gemuruh bedug yang bertalu-talu menjadi suara latar takbir. Menggema suaranya sampai pintu rumah. Belum bunyi kembang api yang meletup-letup diangkasa. Berlomba-lomba mewarnai langit, saling sambut menyambut antara kembang api lain, membuat suasana malam sebelum lebaran semakin ramai saja. Ah, tidak ketinggalan macet. Iya, macet karena takbiran keliling. Namun, malam ini Jakarta sedikit berbeda.
Riuh takbir tidak sekeras dulu. Gemuruh bedug tidak semenggetarkan dulu. Warna kembang api jarang terlihat di sudut langit malam. Jalanan pun, sepi. Tidak seramai tahun-tahun sebelumnya. Seakan semua orang enggan untuk keluar dari rumahnya. Memilih berdiam di rumah, beristirahat sambil menyiapkan diri untuk esok hari.
Ada apa sebenarnya?
Seperti biasa, kebiasaan keluarga gue saat malam takbiran adalah ngambil masakan di Jatiwaringin terus di taro di rumah eyang gue di Pondok Kelapa. Ya, kalo macet sih mah ya macet pastinya di Kalimalang, tapi ya namanya juga udah kebiasaan. Rasanya tuh males, soalnya pasti yang takbir keliling banyak. Bikin macet. Belum pengendara motor yang aduuuhhh mak, minta ampun! Setidaknya mental gue udah gue siapin buat hal-hal kayak gitu sebelum berangkat. Namun, untuk tahun ini, semua lancar. Apa yang gue takutkan tidak muncul. Jalanan lenggang, santai. Tidak begitu meriah. Bahkan dibandingin tahun baru, lebih meriah tahun baru. Padahal mah biasanya malam takbiran meriah meriah super meriah.
Selidik menyelidik, ternyata eh ternyata takbiran dilarang oleh Gubernur DKI, ya siapa lagi kalo bukan bapak Joko Widodo. Wow, bagus nih. Biar malam takbiran tertib. Pikir gue. Tapi, eh. Gue ngeliat artikel di kompasiana. Silahkan di baca di http://edukasi.kompasiana.com/2013/08/07/anakku-maafkan-ayahmu-tahun-ini-kita-dilarang-takbir-keliling-579759.html
Duh, miris jadinya. Apa yang ditulis disitu bener juga. Gue gak akan mandang sisi agamanya, tapi budayanya. Gue gak tau, takbir keliling itu ada sunnah Rasulnya apa gimana, gue gak ngerti, namun takbiran merupakan salah satu bentuk budaya Indonesia. Atau setidaknya budaya hampir seluruh umat muslim di dunia. Indonesia merupakan negara dengan umat muslim terbesar di Indonesia, walaupun cuman berdasarkan ktp, agak sangat disayangkan jika kebudayaan ini dihentikan begitu saja. Padahal budaya ini sudah mengakar cukup dalam di kalangan masyarakat kita. Artinya, Indonesia mampu dikenal melalui budaya ini. Karena hampir yang melakukan kebudayaan tersebut mayoritas penduduk Indonesia, dan sudah terjalani cukup lama. Jadi jika berhenti, maka salah satu kebudayaan itu hilang donk?
Emang sih, gak sedikit juga yang melakukan takbir keliling macam stuntman, ya taulah yang naik metromini, terus mukul bedug di atasnya, atau naik mobil bak, tapi yang naik ampe 20 orang, emang banyak banget takbir keliling yang gak tertib, tapi toh mereka ikhlas. Mereka mengumandangkan nama Allah di seluruh penjuru kota. Mereka pun juga dengan semangat menunjukan bahwa Islam tidak kaku, menyenangkan, meriah. Bahkan takbir keliling bisa dibilang menyebarkan Islam juga. Bagaimana tidak, dalam satu malam doa-doa dipanjatkan diseluruh mesjid, rumah maupun sampai di jalan karna takbir keliling ini! Semua orang pasti mendengarkan. Tidak mungkin tidak.
Jadi, kenapa pak Jokowi menghentikan salah satu acara kebudayaan ini? Ayolah, masalah keamanan? Waktu car free night tahun baru rawan copet, manusia berjubel berdempet sana sini, laki pria bercampur, penonton, pencopet membaur dalam kerumunan. Hayo, tapi tetep di laksanakan kok. Kenapa tidak memperbanyak patroli polisi saja, biar mereka menertibkan, bukan menghentikan laju takbir keliling. Yang melakukan tindak anarkis ya tangkap saja, namun yang melakukan dengan baik dan santun, silahkan diperbolehkan. Bukankah begitu bisa?
Sedikit banyak bertanya, ada apa sebenarnya dibalik peraturan ini? Jika memang Jokowi seorang muslim sejati, maka seharusnya ia mendukung menyebarkan agama islam. Bukan menghambatnya. Saran aja sih pak, harusnya bisa bedain mana kebudayaan yang patut dihentikan atau dikurangin, atau kebudayaan yang dipamerkan dan didukung agar Indonesia ini semakin baik secara nasional maupun Internasional.
Sejujurnya, rindu gema takbir yang tiada henti, doa yang terus dikumandangkan sampai pagi, gemuruh kembang api menghujam langit. Namun sekarang, pukul 1 dini hari, semua telah sunyi senyap. Meninggalkan tanya dan bingung. Sebagian senang tiada tahu. Namun sebagian lagi sedih tak berujung. Mungkin sebaiknya tahun depan pergi ke daerah luar kota agar bisa menikmati malam takbiran sesungguhnya? Ah ya, lebih baik dipikirkan sekarang. Ibu kota ini mulai kehilangan jatinya.
Nah, udah jadi kebiasaan banget kan kalo malam sebelum lebaran itu ada yang namanya takbiran. Wuiihh, rame meriah di seluruh penjuru negeri. Semua mesjid, anak-anak, tua, muda, laki-laki, perempuan saling mengumandangkan takbir. Tanda hari kemenangan sudah hampir tiba. Gemuruh bedug yang bertalu-talu menjadi suara latar takbir. Menggema suaranya sampai pintu rumah. Belum bunyi kembang api yang meletup-letup diangkasa. Berlomba-lomba mewarnai langit, saling sambut menyambut antara kembang api lain, membuat suasana malam sebelum lebaran semakin ramai saja. Ah, tidak ketinggalan macet. Iya, macet karena takbiran keliling. Namun, malam ini Jakarta sedikit berbeda.
Riuh takbir tidak sekeras dulu. Gemuruh bedug tidak semenggetarkan dulu. Warna kembang api jarang terlihat di sudut langit malam. Jalanan pun, sepi. Tidak seramai tahun-tahun sebelumnya. Seakan semua orang enggan untuk keluar dari rumahnya. Memilih berdiam di rumah, beristirahat sambil menyiapkan diri untuk esok hari.
Ada apa sebenarnya?
Seperti biasa, kebiasaan keluarga gue saat malam takbiran adalah ngambil masakan di Jatiwaringin terus di taro di rumah eyang gue di Pondok Kelapa. Ya, kalo macet sih mah ya macet pastinya di Kalimalang, tapi ya namanya juga udah kebiasaan. Rasanya tuh males, soalnya pasti yang takbir keliling banyak. Bikin macet. Belum pengendara motor yang aduuuhhh mak, minta ampun! Setidaknya mental gue udah gue siapin buat hal-hal kayak gitu sebelum berangkat. Namun, untuk tahun ini, semua lancar. Apa yang gue takutkan tidak muncul. Jalanan lenggang, santai. Tidak begitu meriah. Bahkan dibandingin tahun baru, lebih meriah tahun baru. Padahal mah biasanya malam takbiran meriah meriah super meriah.
Selidik menyelidik, ternyata eh ternyata takbiran dilarang oleh Gubernur DKI, ya siapa lagi kalo bukan bapak Joko Widodo. Wow, bagus nih. Biar malam takbiran tertib. Pikir gue. Tapi, eh. Gue ngeliat artikel di kompasiana. Silahkan di baca di http://edukasi.kompasiana.com/2013/08/07/anakku-maafkan-ayahmu-tahun-ini-kita-dilarang-takbir-keliling-579759.html
Duh, miris jadinya. Apa yang ditulis disitu bener juga. Gue gak akan mandang sisi agamanya, tapi budayanya. Gue gak tau, takbir keliling itu ada sunnah Rasulnya apa gimana, gue gak ngerti, namun takbiran merupakan salah satu bentuk budaya Indonesia. Atau setidaknya budaya hampir seluruh umat muslim di dunia. Indonesia merupakan negara dengan umat muslim terbesar di Indonesia, walaupun cuman berdasarkan ktp, agak sangat disayangkan jika kebudayaan ini dihentikan begitu saja. Padahal budaya ini sudah mengakar cukup dalam di kalangan masyarakat kita. Artinya, Indonesia mampu dikenal melalui budaya ini. Karena hampir yang melakukan kebudayaan tersebut mayoritas penduduk Indonesia, dan sudah terjalani cukup lama. Jadi jika berhenti, maka salah satu kebudayaan itu hilang donk?
Emang sih, gak sedikit juga yang melakukan takbir keliling macam stuntman, ya taulah yang naik metromini, terus mukul bedug di atasnya, atau naik mobil bak, tapi yang naik ampe 20 orang, emang banyak banget takbir keliling yang gak tertib, tapi toh mereka ikhlas. Mereka mengumandangkan nama Allah di seluruh penjuru kota. Mereka pun juga dengan semangat menunjukan bahwa Islam tidak kaku, menyenangkan, meriah. Bahkan takbir keliling bisa dibilang menyebarkan Islam juga. Bagaimana tidak, dalam satu malam doa-doa dipanjatkan diseluruh mesjid, rumah maupun sampai di jalan karna takbir keliling ini! Semua orang pasti mendengarkan. Tidak mungkin tidak.
Jadi, kenapa pak Jokowi menghentikan salah satu acara kebudayaan ini? Ayolah, masalah keamanan? Waktu car free night tahun baru rawan copet, manusia berjubel berdempet sana sini, laki pria bercampur, penonton, pencopet membaur dalam kerumunan. Hayo, tapi tetep di laksanakan kok. Kenapa tidak memperbanyak patroli polisi saja, biar mereka menertibkan, bukan menghentikan laju takbir keliling. Yang melakukan tindak anarkis ya tangkap saja, namun yang melakukan dengan baik dan santun, silahkan diperbolehkan. Bukankah begitu bisa?
Sedikit banyak bertanya, ada apa sebenarnya dibalik peraturan ini? Jika memang Jokowi seorang muslim sejati, maka seharusnya ia mendukung menyebarkan agama islam. Bukan menghambatnya. Saran aja sih pak, harusnya bisa bedain mana kebudayaan yang patut dihentikan atau dikurangin, atau kebudayaan yang dipamerkan dan didukung agar Indonesia ini semakin baik secara nasional maupun Internasional.
Sejujurnya, rindu gema takbir yang tiada henti, doa yang terus dikumandangkan sampai pagi, gemuruh kembang api menghujam langit. Namun sekarang, pukul 1 dini hari, semua telah sunyi senyap. Meninggalkan tanya dan bingung. Sebagian senang tiada tahu. Namun sebagian lagi sedih tak berujung. Mungkin sebaiknya tahun depan pergi ke daerah luar kota agar bisa menikmati malam takbiran sesungguhnya? Ah ya, lebih baik dipikirkan sekarang. Ibu kota ini mulai kehilangan jatinya.
Tags:
Belajaar
Cerita ajaaa
0 comments