Dari Amensia Sampai Keabadian
Ah ya, pagi. Atau lebih tepatnya siang hari. Tidak bukan karena saya baru bangun, namun saya sangat menyukai pagi. Walaupun hampir sering sekali saya melewati bagian awal dari sebuah hari. Jadi jika terlewati, maka melakukan aktivitas pagi di siang hari, dan berkata "selamat pagi".
Setelah seminggu lamanya saya ngidam menulis sesuatu, sudah gatal sekali rasanya pengen ngeblgg, tapi apa daya. Internet di kota ini seperti barang langka walau tak mahal harganya. Bukan susah dicari. Tapi susah sekali nyambung koneksinya. Giliran konek, putus nyambung putus nyambung. Duh, ababil sekali internetnya. Kalau dia sedang galau, jangan isengin orang lain juga donk. Duh, di pagi hari sudah meracau tidak jelas saja.
Jadi, saya pun kembali menulis. Karena saya sudah berdoa tengah malam minta internet di kosan saya bisa tersambung, dan voila. Tuhan menjawabnya! Ahay. Maka dari itu saya pun mulai mengetik. Tik tik tik. Yep, hasilnya adalah 2 draft yang tercipta. Entahlah. Isinya racauan pikiran yang terakumulasi dari dulu bercampur kenangan pahit lama. Sedih sekali. Giliran sudah ada jalan, malah pikiran ini buntu. Padahal, seminggu sebelum selalu dapat ide untuk menulis. Tapi ya itu, mau segera mungkin ditumpahkan malah tak bisa. Rasanya seperti orang mau boker terus ditahan lama, giliran sudah mau dikeluarkan malah berceceran kemana-mana (ini menjijikan.....)
Sama halnya menyimpan memori. Walau kapasitas sel dalam otak kita cukup banyak, namun sepertinya sel di otak saya masih berleha-leha belum siap bekerja secara efektif. Masih terbawa suasana liburan. Ah bahayanya. Senin kemarin, banyak sekali saya lupa nama. Ini siapa, itu siapa. Aduh, padahal sering ketemu. Tak jarang teman sekelas sendiri juga lupa. Bertatapan lama mencoba mengingat siapa namanya menjadi kegiatan rutin hari senin saat itu. Memang benar adanya kalau kita tidak membiasakan pikiran ini bekerja maka suatu saat bisa berhenti bekerja. Sama halnya sekarang. Sebulan lamanya liburan berleha-leha, membuat otak saya menjadi amnesia sesaat tentang kehidupan di kota satu ini.
Masalah simpan menyimpan memori, saya tipikal orang yang memiliki daya ingat kuat (alah padahal paragraf sebelumnya bilang otaknya amnesia cuman karena sebulan liburan) dengan syarat momen itu menyentuh hati saya. Ahay. Saya masih ingat dulu saya waktu tk berapa pernah tercebur got dengan sepeda roda tiga. Namun saya lupa kalau tetangga sebelah saya adalah sahabat terdekat saya dulu yang sampai sekarang pun saya masih lupa namanya. Padahal di masa yang sama. Tapi ya seperti itu contohnya. Kecebur got memang sial, dan saya mengalaminya sendiri. Sedangkan punya teman sepermainan yg notabenya main begitu-begitu aja ya mudah terlupakan. Mungkin inilah pengkhianatan pertama persahabatan saya dalam hidup.
Makanya, saya senang sekali motret sana sini dan nulis semua hal. Sebisa mungkin kalau ada momen yang menyentuh saya, saya tulis langsung. Selagi hangat di pikiran. Dan selagi hati saya masih ingat rasa momen itu. Jadi ketika dibaca ulang, perasaan itu tetap terasa ketika membacanya. Sama halnya jika kita memabca tulisan seseorang yang bisa menyentuh hati. Saya percaya, ia melakukannya dengan rasa yang sama, menuangkan perasaan itu dalam tulisan ini yang berfungsi sebagai wadah. Malah tak jarang beberapa bahkan mengajak kita ikut kedalam ingatan mereka. Walau tak sekuat foto.
Motret memang bukan keahlian saya, namun saya suka sekali. Karena halnya dengan menulis, terdapat rasa yang tertuang dalam momen beku itu. Seakan kita masuk dalam masa itu. Kita melihat apa yang fotografer itu lihat. Ikut merasakan perasaan ketika ia membekukan momen itu. Hal ini pernah saya rasakan ketika berada di Solopos. Melihat foto kerusuhan '98 di Solo. Terdapat ruko yang dibakar. Demo besar-besaran. Mobil yang terbakar. Hotel dan rumah-rumah yang dirusak warga. Walau sayang angkatan '94 saya tidak begitu tahu masa itu. Namun ketika melihat foto itu saya termenung. Seakan takut. Kalau-kalau hal itu terulang. Membayangkan semua orang menggila. Tak tahu mana yang nyata dan sebenarnya. Baik dan buruk menjadi setara. Dan pertama kalinya saya melihat nyata momen kejadian kerusuhan itu. Sedikit bikin hati takut. Mungkin sama halnya fotografer itu yang mencoba mengabadikannya. Berada langsung di lapangan. Takut-takut berada di sana, namun berjuang untuk menyampaikan kenyataan pada generasi mendatang.
Sama halnya penulis. Yang banyak berkata bahwa mereka bekerja pada keabadiaan. Karyanya akan selalu hadir di dunia. Banyak karya tulis yang entah dari abad berada sampai sekarang pun masih dicetak ulang. Di terbitkan dalam berbagai bahasa. Dibaca ulang. Terus menerus. Mengalirkan perasaan penulisnya, menyebarkan pemikirannya. Tak lekang oleh waktu.
Fotograferpun sama. Mengabadikan momen. Untuk diberitakan pada generasi mendatang. Memberi tahukan bahwa ini pernah terjadi. Bukti kuat akan suatu peristiwa. Memberikan gambaran nyata akan sebuah berita. Dalam sudut pandang seseorang. Dalam perasaan dan pemikiran seseorang. Dan mereka membawa itu semua dalam suatu karya yang abadi.
Bagi saya, kedua pekerjaan inilah yang paling menyenangkan di dunia. Kenapa? Lupakan masalah profit, itu tak dihitung. Tapi bayangkan mereka bekerja dengan menuangkan pikiran dan perasaanya akan sebuah peristiwa. Berkomentar, memberikan kesaksian. Menyebarkan luas kebenaran, berjuang di lapangan hanya untuk sebuah kebenaran. Iya, momen saat itulah kebenaran. Yang dicoba disampaikan untu masa depan. Seterusnya. Bukankah kita sangat senang kalau-kalau perasaan kita dipahami orang lain? Bukankah kita sangat senang kalau-kalau ada banyak yang setuju dengan pemikiran kita? Terlebih jika tahu mereka mereka jauh di entah dimana, jauh dibawah generasi kita setuju dan sepaham. Ah, ya. Kedua pekerjaan inilah memang yang paling menyenangkan di dunia.
Melakukan apa yang disuka, menyampaikan apa yang harus disampaikan, menyebarluaskan pemikiran, memberikan kabar pada dunia, berkesaksiaan akan suatu peristiwa, memberitahu sebuah kebenaran dan selalu hidup di dalam dunia.
Ah ya. Dari amnesia sampai membicarakan keabadian. Adios!
Setelah seminggu lamanya saya ngidam menulis sesuatu, sudah gatal sekali rasanya pengen ngeblgg, tapi apa daya. Internet di kota ini seperti barang langka walau tak mahal harganya. Bukan susah dicari. Tapi susah sekali nyambung koneksinya. Giliran konek, putus nyambung putus nyambung. Duh, ababil sekali internetnya. Kalau dia sedang galau, jangan isengin orang lain juga donk. Duh, di pagi hari sudah meracau tidak jelas saja.
Jadi, saya pun kembali menulis. Karena saya sudah berdoa tengah malam minta internet di kosan saya bisa tersambung, dan voila. Tuhan menjawabnya! Ahay. Maka dari itu saya pun mulai mengetik. Tik tik tik. Yep, hasilnya adalah 2 draft yang tercipta. Entahlah. Isinya racauan pikiran yang terakumulasi dari dulu bercampur kenangan pahit lama. Sedih sekali. Giliran sudah ada jalan, malah pikiran ini buntu. Padahal, seminggu sebelum selalu dapat ide untuk menulis. Tapi ya itu, mau segera mungkin ditumpahkan malah tak bisa. Rasanya seperti orang mau boker terus ditahan lama, giliran sudah mau dikeluarkan malah berceceran kemana-mana (ini menjijikan.....)
Sama halnya menyimpan memori. Walau kapasitas sel dalam otak kita cukup banyak, namun sepertinya sel di otak saya masih berleha-leha belum siap bekerja secara efektif. Masih terbawa suasana liburan. Ah bahayanya. Senin kemarin, banyak sekali saya lupa nama. Ini siapa, itu siapa. Aduh, padahal sering ketemu. Tak jarang teman sekelas sendiri juga lupa. Bertatapan lama mencoba mengingat siapa namanya menjadi kegiatan rutin hari senin saat itu. Memang benar adanya kalau kita tidak membiasakan pikiran ini bekerja maka suatu saat bisa berhenti bekerja. Sama halnya sekarang. Sebulan lamanya liburan berleha-leha, membuat otak saya menjadi amnesia sesaat tentang kehidupan di kota satu ini.
Masalah simpan menyimpan memori, saya tipikal orang yang memiliki daya ingat kuat (alah padahal paragraf sebelumnya bilang otaknya amnesia cuman karena sebulan liburan) dengan syarat momen itu menyentuh hati saya. Ahay. Saya masih ingat dulu saya waktu tk berapa pernah tercebur got dengan sepeda roda tiga. Namun saya lupa kalau tetangga sebelah saya adalah sahabat terdekat saya dulu yang sampai sekarang pun saya masih lupa namanya. Padahal di masa yang sama. Tapi ya seperti itu contohnya. Kecebur got memang sial, dan saya mengalaminya sendiri. Sedangkan punya teman sepermainan yg notabenya main begitu-begitu aja ya mudah terlupakan. Mungkin inilah pengkhianatan pertama persahabatan saya dalam hidup.
Makanya, saya senang sekali motret sana sini dan nulis semua hal. Sebisa mungkin kalau ada momen yang menyentuh saya, saya tulis langsung. Selagi hangat di pikiran. Dan selagi hati saya masih ingat rasa momen itu. Jadi ketika dibaca ulang, perasaan itu tetap terasa ketika membacanya. Sama halnya jika kita memabca tulisan seseorang yang bisa menyentuh hati. Saya percaya, ia melakukannya dengan rasa yang sama, menuangkan perasaan itu dalam tulisan ini yang berfungsi sebagai wadah. Malah tak jarang beberapa bahkan mengajak kita ikut kedalam ingatan mereka. Walau tak sekuat foto.
Motret memang bukan keahlian saya, namun saya suka sekali. Karena halnya dengan menulis, terdapat rasa yang tertuang dalam momen beku itu. Seakan kita masuk dalam masa itu. Kita melihat apa yang fotografer itu lihat. Ikut merasakan perasaan ketika ia membekukan momen itu. Hal ini pernah saya rasakan ketika berada di Solopos. Melihat foto kerusuhan '98 di Solo. Terdapat ruko yang dibakar. Demo besar-besaran. Mobil yang terbakar. Hotel dan rumah-rumah yang dirusak warga. Walau sayang angkatan '94 saya tidak begitu tahu masa itu. Namun ketika melihat foto itu saya termenung. Seakan takut. Kalau-kalau hal itu terulang. Membayangkan semua orang menggila. Tak tahu mana yang nyata dan sebenarnya. Baik dan buruk menjadi setara. Dan pertama kalinya saya melihat nyata momen kejadian kerusuhan itu. Sedikit bikin hati takut. Mungkin sama halnya fotografer itu yang mencoba mengabadikannya. Berada langsung di lapangan. Takut-takut berada di sana, namun berjuang untuk menyampaikan kenyataan pada generasi mendatang.
Sama halnya penulis. Yang banyak berkata bahwa mereka bekerja pada keabadiaan. Karyanya akan selalu hadir di dunia. Banyak karya tulis yang entah dari abad berada sampai sekarang pun masih dicetak ulang. Di terbitkan dalam berbagai bahasa. Dibaca ulang. Terus menerus. Mengalirkan perasaan penulisnya, menyebarkan pemikirannya. Tak lekang oleh waktu.
Fotograferpun sama. Mengabadikan momen. Untuk diberitakan pada generasi mendatang. Memberi tahukan bahwa ini pernah terjadi. Bukti kuat akan suatu peristiwa. Memberikan gambaran nyata akan sebuah berita. Dalam sudut pandang seseorang. Dalam perasaan dan pemikiran seseorang. Dan mereka membawa itu semua dalam suatu karya yang abadi.
Bagi saya, kedua pekerjaan inilah yang paling menyenangkan di dunia. Kenapa? Lupakan masalah profit, itu tak dihitung. Tapi bayangkan mereka bekerja dengan menuangkan pikiran dan perasaanya akan sebuah peristiwa. Berkomentar, memberikan kesaksian. Menyebarkan luas kebenaran, berjuang di lapangan hanya untuk sebuah kebenaran. Iya, momen saat itulah kebenaran. Yang dicoba disampaikan untu masa depan. Seterusnya. Bukankah kita sangat senang kalau-kalau perasaan kita dipahami orang lain? Bukankah kita sangat senang kalau-kalau ada banyak yang setuju dengan pemikiran kita? Terlebih jika tahu mereka mereka jauh di entah dimana, jauh dibawah generasi kita setuju dan sepaham. Ah, ya. Kedua pekerjaan inilah memang yang paling menyenangkan di dunia.
Melakukan apa yang disuka, menyampaikan apa yang harus disampaikan, menyebarluaskan pemikiran, memberikan kabar pada dunia, berkesaksiaan akan suatu peristiwa, memberitahu sebuah kebenaran dan selalu hidup di dalam dunia.
Ah ya. Dari amnesia sampai membicarakan keabadian. Adios!
0 comments