Mari Tersesat Malam Ini
"Hormati dulu orang lain jika ingin dihormati"
"Ubah diri sendiri dulu sebelum mengubah orang lain"
dan sejenisnya.
Kalimat-kalimat yang sering sekali kita dengar, menjadi nasihat bagi kita saat kita sudah keluar dari jalur sepantasnya. Tapi kadang, gue berfikir. Siapapun dia yang menciptakan kalimat itu, pernah gak sih ngebuktiin secara akurat kalau perkataannya itu benar adanya?
Mengubah diri sendiri dahulu sebelum mengubah orang lain.
Bisa diartikan dengan mengubah diri sendiri menjadi pribadi lebih baik, bisa menginspirasi orang lain agar mau ikut berubah. Tapi, nyatanya?
Bisa aja mereka tidak peduli. Bisa saja mereka menganggap kenapa juga harus ikutan berubah. Lebih nyaman gini kok. Dan sebagainya.
Kenapa gak pernah sekalipun membalikkan persepsinya. Kenapa tidak dia dulu saja yang berubah baru kita? Kalau dia hormat, saya juga bakal menghormatin dia kok.
Bukankah seperti itu lebih real?
Nyatanya kalau kita tidak dihormati kita akan kesal. Lalu, kenapa pula kita yang harus berbalik hormat padanya. Padahal dia saja tidak. Siapa yang peduli?
Entahlah. Masalah persepi dua pandang tidak semudah itu.
Kembali lagi pada sebuah tulisan yang tidak menyimpulkan apa-apa. Hal-hal di atas sudah lama berada dipikiran saya. Bingung mana seharusnya yang benar. Mana seharusnya yang jadi panutan.
Karena terkadang kesalahpahaman berawal dari munculnya persepsi yang lain dari pada umumnya. Atau mungkin dia tidak tahu sebelah mana yang umumnya.
Kembali lagi pada tulisan yang tak berujung. Menimbulkan kesan tiada arti. Sama seperti hati ini. Kembali melintasi waktu ke masa lalu. Mengungkit ribuan pertanyaan yang seharusnya sudah diketahui. Sayang, selalu tertinggal di belakang tak terhampiri.
Kembali lagi pada tulisa yang entah berantah tersesat tak ada makna. Berkata subjektif terhadap banyak hal atas persepsi yang tak bisa dibuktikan. Hanya bukti satu nyata. Ucapan lebih enak didengar dibanding bukti tampak yang sulit ditampakkan wujudnya. Ya, mendengar mudah. Tapi mempercayai sulit. Kecuali anda berbaik hati. Menerima semua janji manis dunia tanpa sedikit sangsi.
Entahlah. Rasanya sepert kembali pada sebuah awal.
"Ubah diri sendiri dulu sebelum mengubah orang lain"
dan sejenisnya.
Kalimat-kalimat yang sering sekali kita dengar, menjadi nasihat bagi kita saat kita sudah keluar dari jalur sepantasnya. Tapi kadang, gue berfikir. Siapapun dia yang menciptakan kalimat itu, pernah gak sih ngebuktiin secara akurat kalau perkataannya itu benar adanya?
Mengubah diri sendiri dahulu sebelum mengubah orang lain.
Bisa diartikan dengan mengubah diri sendiri menjadi pribadi lebih baik, bisa menginspirasi orang lain agar mau ikut berubah. Tapi, nyatanya?
Bisa aja mereka tidak peduli. Bisa saja mereka menganggap kenapa juga harus ikutan berubah. Lebih nyaman gini kok. Dan sebagainya.
Kenapa gak pernah sekalipun membalikkan persepsinya. Kenapa tidak dia dulu saja yang berubah baru kita? Kalau dia hormat, saya juga bakal menghormatin dia kok.
Bukankah seperti itu lebih real?
Nyatanya kalau kita tidak dihormati kita akan kesal. Lalu, kenapa pula kita yang harus berbalik hormat padanya. Padahal dia saja tidak. Siapa yang peduli?
Entahlah. Masalah persepi dua pandang tidak semudah itu.
Kembali lagi pada sebuah tulisan yang tidak menyimpulkan apa-apa. Hal-hal di atas sudah lama berada dipikiran saya. Bingung mana seharusnya yang benar. Mana seharusnya yang jadi panutan.
Karena terkadang kesalahpahaman berawal dari munculnya persepsi yang lain dari pada umumnya. Atau mungkin dia tidak tahu sebelah mana yang umumnya.
Kembali lagi pada tulisan yang tak berujung. Menimbulkan kesan tiada arti. Sama seperti hati ini. Kembali melintasi waktu ke masa lalu. Mengungkit ribuan pertanyaan yang seharusnya sudah diketahui. Sayang, selalu tertinggal di belakang tak terhampiri.
Kembali lagi pada tulisa yang entah berantah tersesat tak ada makna. Berkata subjektif terhadap banyak hal atas persepsi yang tak bisa dibuktikan. Hanya bukti satu nyata. Ucapan lebih enak didengar dibanding bukti tampak yang sulit ditampakkan wujudnya. Ya, mendengar mudah. Tapi mempercayai sulit. Kecuali anda berbaik hati. Menerima semua janji manis dunia tanpa sedikit sangsi.
Entahlah. Rasanya sepert kembali pada sebuah awal.
0 comments