Bedebah

Hei mari sini. Akan saya ceritakan sebuah kisah. Kisah para sekumpulan bedebah yang membaur diantara para manusia umumnya, namun seringkali membuat resah. Berhati-hatilah kalian, mungkin mereka terlihat polos. Mungkin mereka terlihat bersahabat, atau mungkin bisa jadi mereka dianggap  pahlawan negeri. Tapi kita tak pernah tahu jalan pikirannya. Bagaimana juga latarnya ataupun keinginan sesungguhnya. Nafsu dunia yang menggebu-gebu, dan tak pernah pun rasa peduli menghampiri hatinya. Seakan memang iblislah dirinya.



Mereka adalah pendatang baru. Kami semua menggangap mereka teman. Bahkan, kami pun sudah menggangapnya saudara. Bukan karena ikatan darah, namun karena kami merasa mempunyai teman untuk berjalan di atas garis takdir yang sama. Kami menyambutnya. Penuh suka cita. Seakan kami tak perlu bertanya, bahwa siapa gerangan mereka sebenarnya.

Kami jamu mereka. Pesta meriah diadakan. Seakan menyambut seorang pahlawan. Tarian dan musik menjadi penghibur malam itu. Tawa dan cerita memenuhi langit malam. Kami pun tertidur dengan senyum bahagia.

Setiap tahunnya kami mempunyai sebuah upacara. Dimana kami akan memberkahi mereka, mendoakan mereka agar mereka sukses bertahan maupun beruntung dalam menghadapi halangan di depan nanti. Tidak itu saja, kami pun akan membekali mereka dengan pengetahuan kami. Kami akan memperkenalkan mereka dengan para pendahulu mereka. Yang sudah selesai menyelesaikan jalan takdir mereka, maupun para pendahulu mereka yang sudah datang terlebih dulu. Di upacara tiap tahunnya ini lah para-para pejuang berkumpul. Berdoa dan saling mengenal lebih baik. Di sinilah titik dimana para pendatang dianggap menjadi sebuah keluarga oleh kesatuan kelompok kami. Di upacara inilah nasib mereka ditentukan. Apakah mereka layak atau tidak untuk meneruskan jalan setapak ini.

Dari bahan makanan berkualitas baik nan lezat, minuman yang menggugah selera, hingga berkas panjatan doa peninggalan leluhur kami, semuanya kumpulkan jadi satu. Bahkan kami pun memberikan tawaran apa-apa saja yang mereka inginkan untuk upacara ini. Karena kami ingin menjadi tuan rumah yang baik, maka kami menyajikan yang terbaik. Kami semua tidak ingin mengecewakan mereka. Kami semua ingin mereka senang dan merasa diterima di sini.

Namun, malam sebelum upacara, mereka menghilang. Kami sibuk mencari sana sini. Dari timur ke barat. Utara ke selatan. Namun jejaknya menghilang. 'Rumah' kami ditinggalkan dalam keadaan sepi. Karena kami semua memang khawatir dan peduli. Ingin mereka tak terluka ataupun merasa terhina sehingga sampai harus pergi. Namun, rasanya kami terlalu lugu. Terlalu mudah ditipu. Atau memang kami sendiri yang terlalu menaruh harapan besar.

Satu persatu rekan kami jatuh tumbang tak berhembus nafas. Dalam gelap kami mendengar lesatan panah. Tak tahu ke arah mana namun yang jelas panah itu mengincar diri kami. Hampir sebagian dari kami sudah terkalahkan. Oleh sebuah tembakan panah yang tepat mengincar nyawa. Dalam gelap kami terus melindungi diri. Berharap panah-panah itu tak mengenai kami. Satu dua berteriak histeris. Tanda semakin banyak yang telah mati. Entah siapa mereka, namun perasaan ini terus mengelak untuk berfikiran yang tidak-tidak. Semakin banyak waktu dan nyawa yang berlalu, semakin rasa curiga dan marah ini menjadi-jadi.

Sampai mata ini tak kuasa atas apa yang dilihat. Mereka, para pendatang itu. Mulai berkeluaran diantara pepohonan. Muncul dalam kegelapan. Menampakan senyuman dan tawa mereka yang menggema malam. Mata itu, yang menunjukkan kepuasan begitu terlihat jelas. Seakan mereka bangga atas apa yang telah mereka perbuat. Para bedebah itu.

Satu panah tertembus di paha kanan. Terpincang-pincang mencoba melarikan diri. Namun terlambat. Mungkin mereka ingin benar-benar menghabisi kami semua. Entah atas dendam apa. Terlihat di kejauhan salah satu dari sedang menyiram para mayat itu. Mereka ingin menghapus jejak. Bukan jejak kejahatan mereka. Namun jejak kehadiran kami pernah ada di bumi. Mereka menumpuk tumpukan mayat itu seperti sampah. Tanpa penghormatan doa, tanpa ucapan selamat tinggal, yang tersisa cuman air mata yang terus meresap kedalam tanah hingga kering, dan tawa mereka.

Berteriak pun tak sanggup. Memangis pun tak kuasa. Untuk marah pun sudah tak kuasa. Terlalu banyak darah yang menalir deras karena panah yang masih menancap di paha kanan. Berjalan pun susah. Kabur pun bukan menjadi pilihan, terlebih membalikkan keadaan. Seratus lawan satu. Apa daya. Seringai senyum itu tak pernah terlupakan dalam mati sekalipun. Mungkin bukan diriku yang membalas. Mungkin lain hari, mereka para bedebah itu, menemui ajal yang sama. Keadlian selalu ada. Hanya saja selalu nanti.

Keluguan membawa petaka. Cawan digantikan dengan pedang. Keramahan membawa kematian.

Share:

0 comments